Senin, 06 Januari 2014

Pendekatan Gaya Mengajar Problem Solving

Sewaktu kuliah materi ini yang kuperdebatkan dengan dosenku,,, aku awalnya ga' yakin, tapi ternyata bisa juga diterapkan di penjas, cuma akhirnya berubah ke gaya yang lain yg disebut dengan gaya diskoveri tertuntun.

terima kasih prof... ternyata ga' ada yg ga' mungkin di dunia ini.... (tapi kenapa aku dapat nilai B).... 
akhirnya sambil minum kopi + dengarin celoteh tukul di TV, kubuatlah tulisan ini sambil mengingat-ngingat apa yang kuperdebatkan dengan dosenku dulu. Kesimpulannya seperti ini:

Ciri-cirinya.......

Gaya mengajar pemecahan masalah terdiri atas masukan informasi pemikiran, pemilihan dan respon. Masalahnya harus dirancang sehingga jawabannya bukan hanya satu jawaban. Bila demikian, gaya ini berubah menjadi gaya yang disebut diskoveri tertuntun.

Masalahnya dirancang dari yang mudah ke yang sukar. Misalnya, “apa perbedaan hasil lemparan bola dalam keadaan kedua kaki diam di atas lantai dengan hasil lemparan dalam posisi kedua kaki sambil bergerak?” Pertanyaan bisa semakin sulit. Misalnya, “bagaimana bentuk gerakan lanjutan kaki untuk menendang dalam sepak bola agar bola tidak melambung jauh diatas seperti kelas 5 dan 6 SD. Makin meningkat usia siswa, seperti sudah menginjak jenjang SLTP, maka mutu pertanyaannya pun kian meningkat. Pertanyaan seperti ini dimaksudkan untuk merangsang penalaran siswa.

 
Pelaksanaannya...

 
Langkah-langkah pelaksanaan gaya mengajar pemecahan masalah sebagai berikut:

  1. Penyajian masalah. Guru menyajikan masalah kepada siswa dalam bentuk pertanyaan atau pernyataan yang merangsang untuk berfikir. Tidak ada penjelasan atau demonstrasi karena pemecahannya bersumber dari anak. 
  2. Tentukan Prosedur. Para siswa harus memikirkan prosedur yang dibutuhkan untuk mencapai pemecahan. Bila usia anak masih muda seperti di kelas awal (kelas 1, 2, atau 3), maka persoalan yang diajukan juga lebih sederhana. 
  3. Bereksperimen dan mengeksplorasi. Dalam bereksprerimen siswa mencoba beberapa kemungkinan cara memecahkan masalah serta menilai dan membuat sebuah pilihan. Ketika mencari-cari jawaban, anaklah yang menentukan arah pemecahannya. Sementara hanya berperan sebagai penasihat, seperti menjawab pertanyaan membantu, memberikan komentar, dan mendorong siswa. Namun, ia tidak mengemukakan jawaban. Waktu harus dirancang cukup untuk mencari jawaban. 
  4. Mengamati, mengevaluasi, dan berdiskusi. Setiap anak perlu memperoleh kesempatan untuk mengemukakan jawaban dan mengamati apa yang ditemukan siswa lainnya. aneka macam hasil temua dapat dipertunjukkan oleh anak secara perorangan, kelompok kecil, rombongan yang agak besar, atau bagian dari kelas. Diskusi terpusat pada pengujian pemecahan yang khas. 
  5. Penghalusan dan perluasan. Setelah mengamati pemecahan yang diajukan siswa lainnya dan mengevaluasi alasan di balik pemecahan yang dipilih, apa yang perlu dilakukan. Setiap anak memperoleh kesempatan untuk bekerja kembali melakukan pola geraknya, menggabungkan satu gagasan dengan gagasan lainnya.
Ghitu, moga2 terasa ya,,,,???

Saran Buat Para Pelatih (Jelang Penjas Cup 09)

Tulisan ini terinspirasi jelang Penjas Cup 09,,,, iseng-iseng nulisnya... terutama setelah nonton acara bola diberbagai liga di TV. Daripada hanya tinggal diotakku doang,,, mending kutumpahkan ke blog ini,,, moga bisa bermanfaat....

Salam olahraga.....

 
Betapa pun bagus skill yang dimiliki para pemain sebuah tim, semuanya tidak akan banyak berarti jika tidak didukung dengan taktik dan strategi yang handal. Sebagaimana dalam sebuah peperangan, taktik dan strategi memegang peranan yang amat menentukan bagi kalah dan menangnya sebuah tim. Oleh karena itu, semua pemain dalam sebuah tim harus memahami strategi dan taktik yang telah ditetapkan. Jika tidak demikian, permainan tim tersebut tidak akan ’menyatu’. Masing-masing pemain akan bermain sendiri-sendiri tanpa kerjasama dan koordinasi yang baik. Berikut ini beberapa hal penting seputar strategi dan taktik bermain sepakbola.

  1. Ketika tim kita menyerang, jangan lupakan pertahanan. Tim yang kuat bukanlah tim yang hanya hebat dalam menyerang. Lebih dari itu, kemampuan bertahan sama pentingnya dengan kemampuan menyerang. 
  2. Ketika tim kita kehilangan bola, maka tim kita harus beralih dari ’menyerang’ menuju ’bertahan’. Secara umum, jika tim kita bertahan maka hendaknya posisi para pemain saling berdekatan satu sama lain untuk membentuk pertahanan yang masif. Adapun jika tim kita menyerang maka hendaknya posisi para pemain saling berjauhan untuk menciptakan ruang-ruang yang lebar dan untuk menceraiberaikan pertahanan lawan. 
  3. Ketika tim kita bertahan (kehilangan bola), lebih baik jika kita membayangi lawan-lawan kita dengan berdiri di belakang mereka karena mereka nantinya akan menuju ke arah kita dan agar ia tidak lepas dari kawalan kita karena kita bisa terus melihatnya. 
  4. Menyerang bisa dilakukan dengan dua cara: 1) Serangan langsung (direct attack): dilakukan dengan mengusahakan agar bola secepat mungkin bisa memasuki daerah pertahanan lawan, yakni dengan banyak melakukan umpan ke arah depan. 2) Serangan tidak langsung (indirect attack): akan berlangsung lebih lambat karena kita akan menggunakan umpan-umpan ke samping dan ke belakang sembari mencari celah kelemahan lawan. Jika para pemain tim kita kurang terampil dan tidak terlalu mahir dalam umpan-mengumpan, sebisa mungkin kita senantiasa menyerang secara langsung. 
  5. Jika tim Anda ingin membangun serangan dari belakang (berarti bola dari belakang akan ditransfer ke tengah dulu baru kemudian ke depan) maka tim Anda harus memiliki para pemain belakang yang cukup terampil (jika tidak, lawan akan dengan mudah bisa mencuri bola dari para pemain belakang tim Anda) dan juga para pemain tengah yang bisa mengatasi para pemain tengah lawan. 
  6. Berdasarkan bagaimana umpan-umpan dilakukan, terdapat dua gaya bermain: 1) Gaya menguasai bola (possession style): dilakukan dengan melakukan umpan-umpan pendek dari kaki ke kaki. Yang perlu diperhatikan ketika menggunakan gaya bermain ini adalah untuk tidak lupa bahwa tujuan utama bermain adalah mencetak gol. Jangan hanya asyik melakukan banyak umpan-umpan pendek tetapi melupakan tujuan utama permainan. 2) Gaya bola-bola panjang (long passes style). Adalah hal yang mungkin untuk menggabungkan dua gaya bermain tersebut. Contohnya adalah Ajax Amsterdam yang seringkali menggunakan possession style di sepertiga tengah lapangan dilanjutkan dengan secara tiba-tiba melakukan umpan panjang ke kotak penalti. Tentu saja, harus ada penyerang yang sudah siap menyambut bola panjang tersebut dan mengeksekusinya. 
  7. Jika tim Anda bermain dengan bola-bola panjang (pemain belakang sering memberikan umpan panjang langsung ke pemain depan), usahakan agar tim Anda tetap melakukan umpan-umpan pendek di daerah pertahanan lawan. Jika tidak, tim Anda akan kesulitan untuk melakukan finishing. 
  8. Jika pertahanan lawan cenderung maju, sangat baik jika tim kita sering melakukan serangan balik dengan cepat. Namun jika pertahanan lawan cenderung tetap di belakang dan memelihara kedalaman, sangat baik jika kita menyerang dengan umpan-umpan pendek. 
  9. Dalam serangan mesti terlibat dua atau tiga orang penyerang: 1) penyerang pertama, yakni penyerang yang membawa bola, 2) penyerang kedua, dan 3) penyerang ketiga. Penyerang kedua dan penyerang ketiga hendaknya berlari kira-kira tiga langkah lebih ke belakang daripada penyerang pertama untuk menghindari offside. 
  10. Ketika tim Anda menyerang hendaknya para pemain belakang juga ikut menekan ke depan sehingga bisa men-support serangan dan melakukan pressure terhadap bola, sekaligus untuk membuat lawan mudah terperangkap offside. Tetapi ada syaratnya: para pemain belakang tersebut mesti memiliki kecepatan dan stamina yang baik. Lebih aman lagi jika tim Anda memiliki seorang sweeper. 
  11. Ketika tim Anda menyerang dan memasuki daerah lawan, sangatlah baik untuk memanfaatkan lebar lapangan karena hal ini akan membuat barisan pertahanan lawan menyebar dan tercerai-berai, sehingga terciptalah celah-celah untuk menembus pertahanan mereka. 
  12. Jika para pemain tim Anda mahir dalam menguasai bola, perhatikanlah bahwa di lapangan biasanya terbentuk dua daerah: daerah padat dan daerah kosong. Pancinglah para pemain lawan untuk membentuk daerah padat dan menyisakan daerah kosong pada bagian lapangan yang lain. Lalu, dengan cara yang sulit diantisipasi, pindahkanlah bola ke daerah kosong dan dari sana ciptakanlah gol ke gawang lawan. 
  13. Agar tim Anda bisa melakukan serangan balik (counterattack), pastikan bahwa ketika pertahanan tim Anda terdesak, masih ada satu atau dua orang penyerang tim Anda yang tetap berada di tengah lapangan atau bahkan lebih ke depan lagi, tergantung pada posisi bek lawan. 
  14. Ketika bola dikuasai oleh lawan di sekitar gawang kita, kita harus melakukan pressure terhadap bola sehingga serangan mereka bisa kita patahkan atau setidak-tidaknya kita hambat. Adapun ketika lawan menguasai bola di daerah pertahanan mereka, kita juga harus melakukan pressure terhadap bola sehingga kita bisa merebut dan menguasai bola untuk kemudian mencetak gol. Hendaknya para pemain depan tim kita senantiasa berusaha untuk bisa mencuri bola yang sedang dikuasai oleh para pemain belakang lawan. Jika hal itu berhasil dilakukan, peluang mencetak gol cukuplah besar. 
  15. Dalam permainan, tim kita harus menentukan formasi bermainnya. Kita menentukan formasi tertentu untuk memastikan adanya support, depth, width, and field coverage baik dalam serangan ataupun pertahanan. Setiap pemain mesti bertanggung jawab atas posisi atau daerahnya. Sebagai contoh, seorang pemain sebelah kanan jangan sampai berada terlalu jauh di sebelah kiri lapangan (kecuali kalau ada cross over, itupun untuk sementara waktu saja), karena akan menyebabkan kekosongan di daerahnya. Setiap pemain harus memainkan posisinya dengan baik dan mempercayai teman-temannya untuk memainkan posisi mereka masing-masing. Penentuan formasi tim hendaknya didasarkan pada: 1) kemampuan (keterampilan) para pemain tim kita, 2) kecepatan dan daya tahan para pemain tim kita, 3) panjang dan lebar lapangan, 4) kekuatan dan kelemahan tim lawan.

It's ok,,,, selamat menerapkan .....

Pendekatan Gaya Mengajar Eksplorasi Terbatas

Hari itu (lupa hari dan tgl nya)? masih dalam suasana PLPG Samarinda 2010
yang kuingat aku begitu tidak percaya diri, jengkel... dosen senior mendominasi kelas PLPG, dan kesepian... (+ my honey + andra dan dava ku ke luar kota).
Jelang istirahat, tiba-tiba ada peserta PLPG yg nyerocos aja bertanya sambil memamerkan gigi ginsulnya, Pak saya mau nanya... !!!!!
kaget.. iya .... tapi dia wanita, seorang guru muda. hmmmm lumayan poin 70. Jadi ga' apa2 meski mengagetkan tapi ada sisi indahnya sekaligus bisa nemani aku makan siang.
sambil nunggu pesanan... si "sipit" berujar...
gini pak.. kemarin bapak menjelaskan tentang gaya mengajar eksplorasi tak terbatas,pasti ada dong gaya eksplorasi terbatasnya????

sambil tersenyum... hhmm inilah saatnya kuperlihatkan, tidak semuanya kita harus belajar ke negeri Cina,, Indonesia juga BISA. 

lalu kujawablah:

Ciri-cirinya.......

Tugas guru ialah menyiapkan pelajaran, materi dan petunjuk umum. Siswa bertugas untuk menentukan sendiri respon yang sesuai. gaya ini cocok untuk pengayaan gerak dan mengembangkan beberapa pola gerak untuk keterampilan khusus.

Pelaksanaannya.....

Bila mempelajari keterampilan manipulatif (misalnya, keterampilan melempar bola dengan tangan) siswa dapat memperlihatkan beberapa cara melambung dan menangkap bola sambil berdiri di tempat. Faktor apa yang terbatas? Keterampilan menangkap sambil berdiri di tempat. Contoh lainnya bila siswa berlatih bersama temannya, misalnya keterampilan memainkan bola mereka dapat melempar atau memantulkan bola dengan beberapa cara seperti bolak balik di antara mereka.

ghitu bu..
yaahh ngerti pak... kapan-kapan aku hubungi lagi ya pak. No TLP nya berapa...? ......Adduh....
sory, honey aku berikan no tlpku....
Aku pergi tapi hatiku kusimpan di sini, itu katamu pada saat aku antar ke bandara....

Pendekatan Gaya Mengajar Eksplorasi Tak Terbatas

Pertanyaan dari judul di atas muncul ketika peserta bertanya pada saat saya menyampaikan materi pada sertifikasi  guru (PLPG Samarinda tahun 2010), sempat kaget juga, tapi itu ga' jadi soal, hanya perlu menenangkan diri sejenak, terus mengingat eksplorasi karya Prie GS (Hidup ini keras, maka gebuklah!) dan kecantikan Aura Kasih... bereesssss lahhh.
Lalu kujawab aja..... 
Kita mulai dari...

Ciri-ciri......

Dalam gaya ekplorasi terbatas, guru membantu menyediakan alat-alat pengajaran dan merancang tugas yang akan dijelajahi. Petunjuk yang disampaikan guru bisa begini: “Hari ini, separuh waktu bebas kamu isi dengan aneka kegiatan, dan silahkan mencari dan memakai alat yang dibutuhkan.”

“Ambil bola dan silahkan memainkannya sesuka hatimu” Tidak ada batas, kecuali faktor keselamatan siswa. Guru cuma mengingatkan bagaimana menggunakan alat.

Pelaksanaan.....

Karena diutamakan kemampuan siswa mencari cara pemecahannya sendiri, maka tidak ada contoh atau demonstrasi dari pihak guru. Jadi guru menghindari pemberian petunjuk dan hasil yang harus dicapai, kecuali mengingatkan beberapa hal seperti cara memakai alat. Hal itu untuk mencegah anak meniru atau tidak kreatif.

Prinsip........

  1. Dalam penerapan gaya eksplorasi tak terbatas, tidak berarti guru tidak aktif. Dalam praktek ia berkeliling memberikan dorongan dan menjawab pertanyaan yang dikemukakan secara perorangan. 
  2. Guru memusatkan perhatiannya untuk memotivasi siswa dan memberikan kesempatan kepada siswa agar mandiri dan kemudian semakin mandiri sesuai dengan perkembangan anak.
INI gaya mengajar pak......

selessaai....... dan peserta itu pun mengangguk-nggagguk,, (seraya mengumbar senyum termanisnya)

sayang,,,,,,, you berkumis!!!!!!

Penjas, Bermain dan Olahraga

Dalam memahami arti pendidikan jasmani, kita harus juga mempertimbangkan hubungan antara bermain (play) dan olahraga (sport), sebagai istilah yang lebih dahulu populer dan lebih sering digunakan dalam konteks kegiatan sehari-hari. Pemahaman tersebut akan membantu para guru atau masyarakat dalam memahami peranan dan fungsi pendidikan jasmani secara lebih konseptual.

Bermain pada intinya adalah aktivitas yang digunakan sebagai hiburan. Kita mengartikan bermain sebagai hiburan yang bersifat fisikal yang tidak kompetitif, meskipun bermain tidak harus selalu bersifat fisik. Bermain bukanlah berarti olahraga dan pendidikan jasmani, meskipun elemen dari bermain dapat ditemukan di dalam keduanya.

Olahraga di pihak lain adalah suatu bentuk bermain yang terorganisir dan bersifat kompetitif. Beberapa ahli memandang bahwa olahraga semata-mata suatu bentuk permainan yang terorganisasi, yang menempatkannya lebih dekat kepada istilah pendidikan jasmani. Akan tetapi, pengujian yang lebih cermat menunjukkan bahwa secara tradisional, olahraga melibatkan aktivitas kompetitif.

Ketika kita menunjuk pada olahraga sebagai aktivitas kompetitif yang terorganisir, kita mengartikannya bahwa aktivitas itu sudah disempurnakan dan diformalkan hingga kadar tertentu, sehingga memiliki beberapa bentuk dan proses tetap yang terlibat. Peraturan, misalnya, baik tertulis maupun tak tertulis, digunakan atau dipakai dalam aktivitas tersebut, dan aturan atau prosedur tersebut tidak dapat diubah selama kegiatan berlangsung, kecuali atas kesepakatan semua pihak yang terlibat.

Di atas semua pengertian itu, olahraga adalah aktivitas kompetitif. Kita tidak dapat mengartikan olahraga tanpa memikirkan kompetisi, sehingga tanpa kompetisi itu, olahraga berubah menjadi semata-mata bermain atau rekreasi. Bermain, karenanya pada satu saat menjadi olahraga, tetapi sebaliknya, olahraga tidak pernah hanya semata-mata bermain; karena aspek kompetitif teramat penting dalam hakikatnya.

Di pihak lain, pendidikan jasmani mengandung elemen baik dari bermain maupun dari olahraga, tetapi tidak berarti hanya salah satu saja, atau tidak juga harus selalu seimbang di antara keduanya. Sebagaimana dimengerti dari kata-katanya, pendidikan jasmani adalah aktivitas jasmani yang memiliki tujuan kependidikan tertentu. Pendidikan Jasmani bersifat fisik dalam aktivitasnya dan penjas dilaksanakan untuk mendidik. Hal itu tidak bisa berlaku bagi bermain dan olahraga, meskipun keduanya selalu digunakan dalam proses kependidikan.

Bermain, olahraga dan pendidikan jasmani melibatkan bentuk-bentuk gerakan, dan ketiganya dapat melumat secara pas dalam konteks pendidikan jika digunakan untuk tujuan-tujuan kependidikan. Bermain dapat membuat rileks dan menghibur tanpa adanya tujuan pendidikan, seperti juga olahraga tetap eksis tanpa ada tujuan kependidikan. Misalnya, olahraga profesional (di Amerika umumnya disebut athletics) dianggap tidak punya misi kependidikan apa-apa, tetapi tetap disebut sebagai olahraga. Olahraga dan bermain dapat eksis meskipun secara murni untuk kepentingan kesenangan, untuk kepentingan pendidikan, atau untuk kombinasi keduanya. Kesenangan dan pendidikan tidak harus dipisahkan secara eksklusif; keduanya dapat dan harus beriringan bersama.

Psikologi Olahraga

a. Pengertian
 
Psikologi secara umum dapat diartikan sebagai ilmu yang mempelajari tentang gejala kejiwaan manusia. Sedangkan kejiwaan atau jiwa adalah merupakan sesuatu yang sifatnya abstrak, yang berarti tidak dapat dilihat dan belum dapat diungkapkan secara jelas dan lengkap. Oleh karena itu, untuk mengungkapnya para ahli cenderung untuk mempelajari kejiwaan yang terjelma ke dalam jasmani manusia dalam bentuk perilaku fisik, yaitu segala aktivitas, perbuatan, atau penampilan diri manusia dalam hidupnya. Dengan demikian sebenarnya bahwa perilaku manusia merupakan pencerminan dari kejiwaannya, sehingga psikologi dapat juga dikatakan sebagai ilmu yang mempelajari tentang perilaku atau tingkahlaku manusia.

Psikologi olahraga adalah merupakah salah satu cabang ilmu yang relatif baru, yaitu merupakan salah satu hasil perkembangan dari psikologi. Hal ini dapat dijelaskan bahwa sejak akhir abab ke-19 para ahli psikologi telah berusaha menerapkan hasil-hasil penelitian psikologi ke dalam kehidupan sehari-hari. Selanjutnya tumbuh dan berkembang apa yang disebut sebagai psikologi terapan (applied psychology) di berbagai bidang, termasuk salah satunya adalah dalam bidang olahraga.

Pada awalnya psikologi hanya mengembangkan diri secara vertical, artinya bahwa psikologi berkembang hanya terbatas dalam lingkup disiplin ilmunya sendiri, yaitu tentang kejiwaan manusia sebagai individu (belum dikaitkan dengan hal lain disekitarnya). Sedangkan manusia sebenarnya bukan hanya individu, melainkan juga merupakan makhluk sosial, yang berarti segala perilaku tidak akan terlepas dari pengaruh lingkungan. Dengan demikian memaksa para ahli psikologi tidak hanya mengembangkan disiplin ilmunya secara vertical melainkan juga harus mengembangkan psikologi secara horisontal. Maksudnya adalah bahwa psikologi mulai mengembangkan diri dengan memasuki disiplin ilmu yang lain. Oleh karena olahraga juga merupakan salah satu bentuk perilaku manusia, maka dalam perkembangan secara horisontal psikologi juga memasuki bidang olahraga, dan muncullah Psikologi Olahraga. Dengan demikian sebenarnya bahwa psikologi olahraga adalah merupakan perpaduan antara psikologi dan olahraga.

b. Psikologi olahraga

Manusia dapat juga dikatakan makhluk inono dualisme, artinya bahwa manusia adalah merupakan kesatuan tak terpisahkan antara dua aspek yang saling berbeda yaitu jiwa dan raga. Di satu sisi aspek fisik atau raga dapat dilihat, diraba, tampak nyata oleh indera manusia, disisi lain aspek kejiwaan (psikologis) adalah aspek yang bersifat abstrak, yang tidak dapat diraba, tidak tampak oleh mata manusia. Aspek jiwa dan raga yang merupakan kesatuan, sudah tentu antara keduanya yaitu antara jiwa dan raga akan saling mempengaruhi. Dengan demikian segala sesuatu yang dialami, diperbuat dan dicapai oleh manusia, akan sangat tergantung dari kedua aspek tersebut. Dengan kata lain, bahwa segala perilaku atau tingkah laku manusia tidak akan terlepas dari pengaruh aspek jiwa dan raga atau aspek fisik dan psikologisnya. Oleh karena itu, semua yang dirasakan atau dialami oleh kejiwaan akan terasa pula oleh raganya. Hal ini kiranya sudah sejak jaman dahulu disadari dan dimengerti, bahwa antara jiwa dan raga merupakan satu kesatuan yang tidak dapat dipisahkan dan saling mempengaruhi.

Hal ini dapat dilihat dan dirasakan pada kejadian sehari-hari, baik yang dialami oleh orang lain maupun kita alami sendiri. Misalnya, apabila seseorang atau kita sendiri sedang mengalami suatu kekecewaan yang mendalam, situasi ini dapat dikatakan bahwa orang itu atau kita sedang mengalami gangguan kejiwaan, maka untuk menggerakkan raga rasanya menjadi berat. Bahkan tidak jarang karena suatu kekecewaan, akan mengakibatkan timbulnya suatu penyakit tertentu. Contoh lain misalnya seseorang atau kita sendiri dalam melakukan kegiatan olahraga, karena sebab tertentu kemudian mengalami cedera berat seperti patah kaki misalnya. Akibat yang langsung dirasakaan adalah rasa sakit, selain akibat setelah sembuh nanti. Dengan patah kaki berarti akan menjadi cacat (karena kakinya harus dipotong misalnya), hal ini akan mengakibatkan munculnya rasa rendah diri, malu kepada orang lain, hingga ia akan selalu murung dan mengurung diri, dan merasa sudah tidak mempunyai masa depan dan lain sebagainya. Hal ini menunjukkan bahwa apa yang dialami raga kita, juga akan berpengaruh terhadap jiwa kita. Kiranya mengenai hubungan dan pengaruh antara jiwa dan raga ini sudah tidak diragukan dan disangkal lagi hingga sebenarnya kita semua telah mengerti dan menyadari sepenuhnya hal itu.

Jika keyakinan sudah demikian seharusnya kita juga dapat memperlakukan, merawat, dan memperhatikan dua aspek tersebut yaitu jiwa dan raga kita secara seimbang. Artinya bahwa kita selain harus memperhatikan, memperlakukan, merawat dan membina raga kita, juga harus merawat, memperhatikan, memperlakukan dan membina kejiwaan kita secara seimbang atau sama dengan memperlakukan dan membina raga kita. Namun demikian kenyataannya sampai saat ini belum demikian, artinya bahwa perlakuan kita terhadap raga dan kejiwaan kita masih berat sebelah atau belum seimbang.

Sekalipun telah dimengerti bahwa antara jiwa dan raga saling mempengaruhi dan seharusnya mendapatkan perhatia yang sama, namun masih banyak orang yang karena lupa atau sebab lain atau tanpa disadari, memperlakukan aspek jiwa dan rasa ini dengan tidak adil atau tidak seimbang, yaitu lebih banyak menekankaan perhatiannya atau pembinaannya terhadap aspek raga saja. Hal ini banyak contoh yang dapat kita saksikan.

Seseorang yang merasa sakit atau menderita sakit tertentu, sebagai usaha penyembuhan biasanya dibawa ke dokter. Setelah ke dokter yang satu penyakitnya tidak kunjung sembuh, kemudian ke dokter lain, demikian seterusnya. Hal ini karena pada umumnya mereka hanya melihat akibat semata, tanpa melihat atau memang tidak tahu sebabnya. Sebagai akibat yang terlihat atau yang terasa memang sakit secara fisik, tetapi dapat juga disebabkan faktor psikologis. Namun sebagai akibatnya (seperti yang sudah disebutkan sebelumnya) bisa sama yaitu sakit secara fisik. Jika memang penyebabnya adalah faktor fisik (fisiologis), maka memang tepat dibawa ke dokter umum. Tetapi jika yang menjadi penyebabnya adalah faktor psikologis, walaupun setelah diobati oleh dokter umum menjadi sembuh, tetapi kemungkinan penyakit itu akan muncul kembali setelah pengaruh obat yang diberikan telah habis. Jika memang demikian, maka sebaiknya dibawa ke psikiater untuk dicari penyebab dari aspek yang lain yaitu aspek psikologis.

Tokoh Behavioristik

1. Edward Lee Thorndike (1874-1949 ) 
Menurut Thorndike belajar merupakan peristiwa terbentuknya asosiasi-asosiasi antara peristiwa-peristiwa yang disebut stimulus (S) dengan respon (R). Dari eksperimen kucing lapar yang dimasukkan dalam sangkar diketahui bahwa supaya tercapai hubungan antara stimulus dan respon perlu adanya kemampuan untuk memilih respon yang tepat serta melalui usaha (trials) dan kegagalan (error) terlebih dahulu. Oleh karena itu teori belajar ini sering disebut dengan teori belajar koneksionisme atau teori asosiasi.
Thorndike mengemukakan bahwa terjadinya asosiasi antara stimulus dan respon mengikuti hukum-hukum betikut:

  1. Hukum kesiapan yaitu semakin siap organisme memperoleh perubahan tingkah laku akan menimbulkan kepuasan individu sehingga asosiasi cenderung diperkuat.
  2. Hukum akibat yaitu hubungan stimulus respon cenderung diperkuat bila akibatnya menyenangkan dan cenderung diperlemah jika akibatnya tidak memuaskan.
  3. Hukum latihan yaitu semakin sering tingkah laku diulang maka asosiasi tersebut akan semakin kuat.
 
2. Ivan Petrovich Pavlov (1849-1936)
Pavlov meraih penghargaan Nobel dalam bidang psikology of medicine pada tahun 1904. Karyanya mengenai pengkondisian sangat mempengaruhi psikologi behavioristik di Amerika. Classic conditioning (pengkondisian) adalah proses yang ditemukan Pavlov melalui percobaannya terhadap anjing, di mana perangsang asli dan netral dipasangkan dengan stimulus bersyarat secara berulang-ulang sehingga memunculkan reaksi yang diinginkan. Pavlov mengadakan operasi leher pada seekor anjing sehingga kelihatan kelenjar air liurnya dari luar. Apabila diperlihatkan sesuatu makanan maka akan keluarlah air liurnya. Kini sebelum makanan diperlihatkan maka yang diperlihatkan adalah sinar merah terlebih dahulu baru makanan. Dengan sendirinya air liurpun akan keluar juga. Dengan menerapkan strategi Pavlov ternyata individu dapat dikendalikan melalui cara mengganti stimulus yang tepat untuk mendapatkan pengulangan respon yang diinginkan, sementara individu tidak menyadari bahwa ia dikendalikan oleh stimulus yang berasal dari luar dirinya.

 
3. Burrhus Frederic Skinner ( 1904 -1990 )
Skinner dikenal sebagai tokoh behavioristik dengan pendekatan model instruksi langsung (directed instruction) dan meyakini bahwa perilaku dikontrol melalui proses operant conditioning. Operant conditioning adalah suatu proses penguatan perilaku operan (penguatan positif atau negatif) yang dapat mengakibatkan perilaku tersebut dapat berulang kembali atau menghilang sesuai dengan keinginan. Berdasarkan berbagai percobaan pada tikus dan burung merpati, Skinner menyatakan bahwa unsur terpenting dalam belajar adalah penguatan (reinforcement). Maksudnya adalah pengetahuan yang terbentuk melalui ikatan stimulus–respon akan semakin kuat bila diberi penguatan. Skinner membagi penguatan menjadi dua yaitu penguatan positif yang berupa hadiah, perilaku atau penghargaan dan penguatan negatif yang berupa menunda/tidak memberi penghargaan, memberikan tugas tambahan atau menunjukkan perilaku tidak senang.
Prinsip belaja Skinner antara lain:

  1. Hasil belajar harus segera diberitahukan kepada siswa, jika salah dibetulkan, jika benar diberi penguatan
  2. Proses belajar harus mengikuti irama dari yang belajar
  3. Materi pelajaran digunakan system modul
  4. Dalam proses pembelajaran tidak digunakan hukuman
  5. Tingkah laku yang diinginkan pendidik diberi hadiah dan sebaiknya hadiah diberikan dengan digunakannya jadwal variable rasio reinforcer
  6. Dalam pembelajaran digunakan shaping.
 
4. Robert Gagne ( 1916-2002 )
Menurut Gagne, belajar dimulai dari paling sederhana (belajar signal) dilanjutkan pada yang lebih kompleks sampai pada tipe belajar yang lebih tinggi dan prakteknya tetap mengacu pada asosiasi stimulus-respon.

 
5. Albert Bandura (1925- ? )
Teori belajar social Bandura menunjukkan pentingnya proses mengamati dan meniru perilaku, sikap, dan reaksi emosi orang lain. Teori Bandura menjadi dasar dari perilaku pemodelan yang digunakan dalam berbagai pendidikan secara massal.